EBV dan NHL


NON-HODGKIN LIMFOMA

Limfoma non Hodgkin adalah penyakit yang menyerang sel dari sistem limfatik, yang dikenal sebagai sel darah putih, atau limfosit. Pada limfoma non Hodgkin, limfosit mulai berperilaku seperti sel kanker dan tumbuh serta berlipat ganda secara tidak terkontrol, dan tidak mati seperti pada proses yang seharusnya. Karena hal ini, limfoma non Hodgkin sering disebut sebagai kanker.

Limfosit abnormal ini sering terkumpul dalam kelenjar getah bening, yang mengakibatkan pembengkakan. Karena limfosit bersirkulasi ke seluruh tubuh, kumpulan limfosit abnormal – atau ‘limfoma’ – juga dapat terbentuk di bagian tubuh lainnya di luar dari kelenjar getah bening.

Terdapat kurang lebih 30 jenis limfoma non Hodgkin yang berbeda, dan pengalaman setiap orang berbeda. Terdapat pengobatan untuk semua jenis limfoma non Hodgkin, dan banyak pasien yang berespon terhadap pengobatan.

Pada pasien yang tidak sembuh, remisi seringkali dapat tercapai. Bahkan pada pasien dimana kesembuhan atau remisi tidak mungkin, gejalanya dapat dikurangi. Sebagai hasilnya, orang yang diobati untuk limfoma non Hodgkin dapat hidup secara normal atau mendekati kehidupan normal selama bertahun-tahun.

Jenis limfoma non Hodgkin

Dalam klasifikasi indolen atau agresif, ada banyak jenis limfoma non Hodgkin yang berbeda. Ada banyak pemeriksaan yang dapat menemukan jenis limfoma non Hodgkin apa yang dipunyai pasien. Hasil ini memberikan dokter informasi tambahan tentang bagaimana cara penyakit berperilaku dan pengobatan terbaik untuknya. Jenis limfoma non Hodgkin ditentukan oleh :

  • Jenis sel abnormal dalam limfoma (terutama sel B atau sel T)
  • Tampilan kelenjar getah bening yang terserang
  • Jenis protein, atau petanda, pada permukaan sel abnormal

Untuk menentukan jenis limfoma non Hodgkin diperlukan sepotong jaringan untuk dianalisis di bawah mikroskop dan di laboratorium. Kebanyakan pasien akan biopsi, dimana suatu kelenjar getah bening yang terserang, atau bagiannya, dilepaskan dengan cara pembedahan.

Kebanyakan orang dengan limfoma non Hodgkin mempunyai sel B abnormal, atau limfoma sel B. Limfoma non Hodgkin sel T lebih jarang dan bila ditemukan umumnya pada anak-anak dan dewasa muda.

Jika kelenjar getah bening yang terserang masih mempertahankan sesuatu susunan seperti sel normal ketika dilihat di bawah mikroskop, limfoma itu disebut folikular. Jika tidak, limfoma itu disebut difus/menyebar. Secara umum, limfoma folikular cenderung dimiliki oleh klasifikasi indolen, sedangkan limfoma difus cenderung dimiliki oleh klasifikasi agresif.

Petanda pada permukaan sel abnormal dapat membantu penentuan lebih lanjut jenis limfoma, dan mungkin mempengaruhi pengambilan keputusan untuk pengobatan yang terbaik. Karena ada lebih dari 30 jenis limfoma, pemilihan pengobatan yang tepat adalah suatu masalah yang kompleks dan tidak mungkin secara mudah untuk mengeneralisasi semua jenis. Karena itu penting bagi pasien untuk mendiskusikan setiap pertanyaan yang ada dengan dokter ahli mereka. ( untuk informasi lebih lanjut, lihat Bagaimana pengobatan limfoma non Hodgkin?.

Tabel jenis Limfoma non Hodgkin

Limfoma non Hodgkin indolen

Limfoma non Hodgkin agresif

Limfoma folikular

Limfoma sel B besar difusi

Diffuse small cleaved cell lymphoma

Limfoma sel mantel

Limfoma MALT

Limfoma limfoblastik dewasa

Limfoma limfositik kecil

Limfoma sel B besar mediastinal utama

Makroglobulinemia Waldenstrom

Limfoma Burkitt

Catatan : Jenis pada tiap klasifikasi dapat berbeda secara signifikan & pengobatan sring bbeda untuk tiap jenis

Setiap orang mempunyai pengalaman yang berbeda mengenai limfoma non Hodgkin. Bahkan pada orang yang tampaknya memiliki limfoma sama jenis atau stadiumnya memerlukan pengobatan yang berbeda dari yang lainnya dan memperoleh hasil yan berbeda.

Sebelum suatu diagnosis limfoma non Hodgkin dapat ditegakkan atau pengobatan dimulai, pemeriksaan diagnostik dan pemeriksaan stadium akan diperlukan.

Mungkin kelihatannya pengobatan menjadi tertunda tanpa alasan saat dilakukan semua pemeriksaan. Akan tetapi, pengobatan yang tepat tergantung pada diagnosis yang tepat, dan sedikit penundaan akan jauh lebih bermanfaat karena dapat memberikan terapi yang terbaik sejak awal.

Limfoma non Hodgkin dapat timbul pada semua usia. Akan tetapi, hampir semua jenis penyakit ini lebih sering pada orang tua, dengan rata-rata usia pada saat di diagnosis adalah 65 tahun. Limfoma non Hodgkin terjadi pada kedua jenis kelamin, tetapi secara signifikan lebih sering pada pria dibandingkan wanita.

Di negara maju (seperti Eropa, Amerika Utara dan australia), insiden limfoma telah meningkat secara perlahan dalam 50 tahun terakhir ini atau lebih. Akan tetapi, sebab peningkatan ini tidak diketahui. Tentu saja, meskipun beberapa penyebab dan faktor risiko untuk limfoma non Hodgkin telah diidentifikasi, tidak ada penyebab yang diketahui pada kebanyakan kasus penyakit ini.

http://indonesian.lymphoma-net.org/index.cfm

LIMFOMA

Definisi dan Epidemiologi

Limfoma merupakan istilah umum untuk keganasan dari sistem limfatik (kelenjar getah bening, limpa, kelenjar timus di leher, dan sumsum tulang). Kelenjar getah bening merupakan suatu kumpulan limfosit berukuran sebesar kacang yang tersebar di seluruh tubuh.

Jumlahnya kurang lebih sebanyak 600 buah. Secara umum, limfoma diklasifikaiskan menjadi 2 kelompok besar, yaitu :

·       Limfoma non-Hodgkin : Pada limfoma jenis ini penyakit berkembang dari limfosit (salah satu jenis sel darah putih). Pada keadaan normal limfosit akan mengalami suatu siklus. Limfosit yang tua akan mati dan tubuh membentuk limfosit yang baru. Pada limfoma non-Hodgkin tubuh membentuk limfosit yang abnormal yang akan terus membelah dan bertambah banyak dengan tidak terkontrol. Limfosit yang bertambah banyak ini akan memenuhi kelenjar getah bening dan menyebabkan pembesaran. Keganasan ini dapat timbul pada berbegai lokasi di tubuh. Umumnya akan timbul sel kanker di kelenjar getah bening, dan dapat menyebar ke organ limfatik lainnya, termasuk pembuluh limfe, tonsil, adenoid, limpa, kelenjar timus, dan sumsum tulang. Kadang-kadang limfoma non-Hodgkin melibatkan organ lain di luar sistem limfatik. Insiden limfoma non-Hodgkin secara global 7 kali lebih sering dibandingkan limfoma Hodgkin.

Insiden limfoma mengalami peningkatan tiap tahunnya. Sekitar 53% dari keganasan darah yang terjadi tiap tahun adalah limfoma. Di Amerika Serikat angka kejadian limfoma sebanyak 71.380 orang pada tahun 2007 dan merupakan keganasan kelima terbanyak pada pria maupun wanita. Sekitar 12% dari seluruh limfoma adalah jenis limfoma Hodgkin, dan sisanya (sebagian besar) adalah limfoma non-Hodgkin.

Penyebab

Penyebab pasti limfoma Hodgkin maupun non-Hodgkin masih belum diketahui. Namun diperkirakan aktivasi gen abnormal tertentu mempunyai peran dalam timbulnya semua jenis kanker, termasuk limfoma.

Gejala dan Tanda

Gejala umum penderita limfoma non-Hodgkin yaitu :

–   Pembesaran kelenjar getah bening tanpa adanya rasa sakit

–   Demam

–   Keringat malam

–   Rasa lelah yang dirasakan terus menerus

–   Gangguan pencernaan dan nyeri perut

–   Hilangnya nafsu makan

–   Nyeri tulang

Diagnosis

·        Limfoma Non-Hodgkin. Dari pemeriksaan fisik, dokter akan menemukan pembesaran kelenjar getah bening. Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk melihat kemungkinan penyakit infeksi (juga dapat menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening). Diagnosis dibuktikan dengan biposi kelenjar getah bening yang membesar. Pemeriksaan penunjang lainnya adalah rontgen, CT-scan, PET-scan, dan biopsi sumsum tulang mungkin diperlukan untuk melihat apakah penyakit ini telah menyebar ke sumsum tulang. Limfoma non-Hodgkin terdiri dari 30 tipe. Pemeriksaan laboratorium immunophenotyping dapat membedakan limfoma non-Hodgkin jenis sel B atau sel T.

·        Limfoma non-Hodgkin. Seperti pada limfoma Hodgkin, terapi ditentukan berdasarkan tipe dan stadium penyakit, usia, dan status kesehatan secara umum. Pilhan terapinya yaitu :

§ Kemoterapi. Kemoterapi terutama diberikan untuk limfoma jenis derajat keganasan sedang-tinggi dan pada stadium lanjut.

§ Radiasi.Radiasi dosis tingi bertujuan untuk membunuh sel kanker dan mengecilkan ukuran tumor. Terapi radiasi umumnya diberikan untuk limfoma derajat rendah dengan stadium awal. Namun kadang-kadang dikombinasikan dengan kemoterapi pada limfoma dengan derajat keganasan sedang atau untuk terapi tempat tertentu, seperti di otak.

§ Transplantasi sel induk.Terutama jika akan diberikan kemoterapi dosis tinggi, yaitu pada kasus kambuh. Terapi ini umumnya digunakan untuk limfoma derajat sedang-tinggi yang kambuh setelah terapi awal pernah berhasil.

§ Observasi. Jika limfoma bersifat lambat dalam pertumbuhan, maka dokter mungkin akan memutuskan untuk observasi saja. Limfoma yang tumbuh lambat dengan gejala yang ringan mungkin tidak memerlukan terapi selama satu tahun atau lebih.

§ Terapi biologi.Satu-satunya terapi biologi yang diakui oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat saat ini adalah rituximab. Rituximab merupakan suatu antibody monoclonal yang membantu system imun mengenali dan menghancurkan sel kanker. Umumnya diberikan secara kombinasi dengan kemoterapi atau dalam radioimunoterapi.

§ Radioimunoterapi.Merupakan terapi terkini untuk limfoma non-Hodgkin. Obat yang telah mendapat pengakuan dari FDA untuk radioimunoterapi adalah ibritumomab dan tositumomab. Terapi ini menggunakan antibody monoclonal bersamaan dengan isotop radioaktif. Antibodi tersebut akan menempel pada sel kanker dan radiasi akan mengahancurkan sel kanker.

Faktor Risiko dan Pencegahan

Penyebab limfoma tidak diketahui. Namun terdapat beberapa faktor risiko terkait timbulnya penyakit limfoma, yaitu :

  • Orang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) memiliki risiko tinggi untuk timbulnya limfoma.
  • Orang yang sering kontak dengan herbisida atau pestisida, misalnya petani.
  • Infeksi virus Epstein-Barr

Faktor risiko limfoma non-Hodgkin :

–         Usia. Limfoma non-Hodgkin bisa terjadi pada usia berapa saja, namun tersering ditemukan pada usia 60-an.

–         Sistem pertahanan tubuh yang menurun (imunosupresan), seperti yang telah menjalani transplantasi organ.

–         Infeksi. Infeksi yang berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit ini adalah infeksi HIV. Infeksi malaria dan virus Epstein-Barr berhubungan dengan peningkatan risiko timbulnya limfoma jenis Burkitt. Selain itu, infeksi Helicobacter pylori juga dapat meningkatkan risiko peyakit ini.

–         Bahan kimia seperti pestisida atau herbsida.

Sumber :

1.       Norton Healthcare.Lymphoma Cancer Prevention.www.

2.       Leukemia and Lymphoma Society.Lymphoma.2007.www.leukemia-lymphoma.org

3.       Mayo Clinic.Hodgkin;s Disease.2007.www.mayoclinic.com

4.       Mayo Clinic.Non-Hodgkin Lymphoma

5.       The Leukemia and Lymphoma Society.The Lymphomas: A Guide for Patients and Caregivers.www.LLS.org

Penulis HSD

Limfoma Non-Hodgkin

PENYEBAB

Penyebabnya tidak diketahui, tetapi bukti-bukti menunjukkan adanya hubungan dengan virus yang masih belum dapat dikenali.
Sejenis limfoma non-Hodgkin yang berkembang dengan cepat berhubungan dengan infeksi karena HTLV-I (human T-cell lymphotropic virus type I), yaitu suatu retrovirus yang fungsinya menyerupai HIV penyebab AIDS.

Limfoma non-Hodgkin juga bisa merupakan komplikasi dari AIDS.

GEJALA

Gejala awal yang dapat dikenali adalah pembesaran kelenjar getah bening di suatu tempat (misalnya leher atau selangkangan) atau di seluruh tubuh. Kelenjar membesar secara perlahan dan biasanya tidak menyebabkan nyeri.

Kadang pembesstsn kelenjar getah bening di tonsil (amandel) menyebabkan gangguan menelan.
Pembesaran kelenjar getah bening jauh di dalam dada atau perut bisa menekan berbagai organ dan menyebabkan:

– gangguan pernafasan
– berkurangnya nafsu makan
– sembelit berat
– nyeri perut
– pembengkakan tungkai.

Jika limfoma menyebar ke dalam darah bisa terjadi leukemia. Limfoma dan leukemia memiliki banyak kemiripan.
Limfoma non-Hodgkin lebih mungkin menyebar ke sumsum tulang, saluran pencernaan dan kulit.

Pada anak-anak, gejala awalnya adalah masuknya sel-sel limfoma ke dalam sumsum tulang, darah, kulit, usus, otak dan tulang belakang; bukan pembesaran kelenjar getah bening. Masulknya sel limfoma ini menyebabkan anmeia, ruam kulit dan gejala neurologis (misalnya kelemahan dan sensasi yang abnormal). Biasanya yang membesar adalah kelenjar getah bening di dalam, yang menyebabkan:

– pengumpulan cairan di sekitar paru-paru sehingga timbul sesak nafas
– penekanan usus sehingga terjadi penurunan nafsu makan atau muntah
– penyumbatan kelenjar getah bening sehingga terjadi penumpukan cairan.

Gejala Limfoma Non-Hodgkin

Gejala

Penyebab

Kemungkinan timbulnya gejala

Gangguan pernafasan
Pembengkakan wajah

Pembesaran kelenjar getah bening di dada

20-30%

Hilang nafsu makan
Sembelit berat
Nyeri perut atau perut kembung

Pembesaran kelenjar getah bening di perut

30-40%

Pembengkakan tungkai

Penyumbatan pembuluh getah bening di selangkangan atau perut

10%

Penurunan berat badan
Diare
Malabsorbsi

Penyebaran limfoma ke usus halus

10%

Pengumpulan cairan di sekitar paru-paru
(efusi pleura)

Penyumbatan pembuluh getah bening di dalam dada

20-30%

Daerah kehitaman dan menebal di kulit yang terasa gatal

Penyebaran limfoma ke kulit

10-20%

Penurunan berat badan
Demam
Keringat di malam hari

Penyebaran limfoma ke seluruh tubuh

50-60%

Anemia
(berkurangnya jumlah sel darah merah)

Perdarahan ke dalam saluran pencernaan
Penghancuran sel darah merah oleh limpa yang membesar & terlalu aktif
Penghancuran sel darah merah oleh antibodi abnormal (anemia hemolitik)
Penghancuran sumsum tulang karena penyebaran limfoma
Ketidakmampuan sumsum tulang untuk menghasilkan sejumlah sel darah merah karena obat atau terapi penyinaran

30%, pada akhirnya bisa mencapai 100%

Mudah terinfeksi oleh bakteri

Penyebaran ke sumsum tulang dan kelenjar getah bening, menyebabkan berkurangnya pembentukan antibodi

20-30%

DIAGNOSA

Harus dilakukan biopsi dari kelenjar getah bening untuk menegakkan diagnosis limfoma non-Hodgkin dan membedakannya dari penyakit Hodgkin atau penyakit lainnya yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening.

http://www.dharmais.co.id/new/content.php?page=about&lang=id

NHL adalah salah satu kanker yang menyerang sel-sel terutama di kelenjar getah bening dan limpa. Leukemia dan limfoma merupakan nama yang biasa/lazim digunakan untuk kanker yang menyerang sel darah putih. Kanker bisa mengubah sel darah putih pada tahap perkembangan apa pun mulai dari bentuk sel induk di sumsum tulang sampai menjadi sel T dan sel B dewasa. NHL dapat timbul kapan saja pada tahap penyakit HIV. Kasus Odha yang mengalami NHL terus meningkat sampai tahun 1995, ketika terapi antiretroviral yang sangat aktif mulai meluas. Kenaikan jumlah Odha yang mengalami NHL tampaknya sebanding dengan besar dan lamanya penekanan sistem kekebalan tubuh mereka.

Penyebab Limfoma

Limfoma muncul ketika ada satu limfosit (sel getah bening) mengalami sejumlah mutasi genetik dan kehilangan kendali terhadap reproduksinya. Sel yang memperbanyak diri ini terus bermutasi dan berkembang menjadi tumor kemudian menyerang jaringan getah bening seperti kelenjar getah bening atau pun limpa. Bahaya yang paling besar dari limfoma adalah penyebarannya ke jaringan atau organ lainnya.

Sarkoma Kaposi (KS) pada Odha merupakan infeksi ganda dari HIV dan virus herpes penyebab sarkoma Kaposi (Kaposi’s sarcoma-associated herpesvirus–KSHV) yang baru dikenal. Bagaimana dengan limfoma pada Odha? Penelitian baru-baru ini menegaskan peranan aktif virus Epstein-Barr (EBV) dalam perkembangan limfoma. Salah satu jenis NHL yaitu limfoma Burkitt, terbukti berkaitan dengan EBV. Di seluruh dunia, EBV berperan pada sekitar separuh dari seluruh kasus kanker pada tenggorokan atas, serta lebih dari 30% dari semua kasus penyakit Hodgkin dan 10% NHL. Hipotesis bahwa HIV memberdayakan virus lainnya untuk menyebabkan kanker tertentu tampaknya baik untuk diteliti lebih jauh. Penelitian diperlukan untuk menjelaskan peranan EBV pada limfoma akibat AIDS, walaupun hubungan antara KSHV dan KS serta peranan virus papilloma manusia dalam kanker anogenital tampaknya lebih bisa dimengerti. Penelitian itu juga diperlukan untuk mengetahui hubungan antara virus herpes yang baru ditemukan dengan limfoma. Penelitian semacam itu dapat menghasilkan cara baru dalam memprediksi dan mengobati limfoma.

Di lain pihak, sebuah penelitian berskala kecil menyatakan bahwa ada hubungan antara kadar racun dan pestisida tertentu di dalam tubuh seseorang dengan risiko NHL. Karena sedikitnya jumlah peserta dalam penelitian ini, maka dibutuhkan penelitian yang lebih lanjut untuk menguatkannya.

Tanda dan Gejala

Gejala NHL yang dirasakan oleh pasien meliputi pembengkakan kelenjar getah bening di daerah leher dan pangkal paha tanpa rasa sakit, gatal-gatal di sekujur badan, kehilangan berat badan, demam dan berkeringat hebat di malam hari. Orang dengan HIV positif seharusnya berhati-hati bila ada pembengkakan di luar kelenjar getah bening. Pemeriksaan fisik pada orang yang mengalami NHL akan memperlihatkan pembesaran hati dan limpa, dan tes laboratorium rutin sering menunjukkan anemia (rendahnya kadar sel darah merah) yang terlihat dari kadar Hb yang rendah.

Diagnosa

Diagnosa NHL mengacu pada lebih dari 24 jenis kanker pada sistem getah bening. Untuk menemukan pengobatan yang tepat atau pun memprediksi hasilnya, para dokter pertama-tama harus menemukan sel getah bening mana yang diserang limfoma. Langkah pertama adalah dengan mengambil sampel jaringan (biopsi) yang terkena limfoma untuk dianalisa. Sel itu kemudian diberi pewarna khusus dan diamati melalui mikroskop untuk membandingkan ukuran dan bentuk sel serta penampakan nukleus dan sitoplasmanya. Sel itu digolong-golongkan dalam beberapa tingkatan yaitu: tingkat rendah untuk penyebaran yang lambat, tingkat sedang untuk penyebaran yang agak cepat dan tingkat tinggi untuk penyebaran yang sangat cepat. Diagnosa dikuatkan dengan CT-scan (computerized tomography scan) dan gambar MRI (magnetic resonance imaging).

NHL bisa menyerang berbagai organ tubuh. Seseorang dengan HIV berkemungkinan lebih besar mengalami limfoma pada lebih dari satu organ tubuh. Ronsen dada akan memperlihatkan apakah paru-paru juga terkena. Biopsi sumsum tulang berguna untuk mengetahui apakah limfoma itu menjalar ke sumsum tulang, tempat produksi sel darah merah dan sel darah putih caranya ialah dengan mengambil sedikit sumsum tulang, yang kemudian diamati dengan mikroskop untuk melihat ada-tidaknya ketidaknormalan sel. Yang terakhir, gambaran beberapa ronsen khusus dapat berguna untuk melihat struktur kelenjar getah bening yang membengkak dan memeriksa suplai darah dan getah bening pada kelenjar tersebut. Proses ini disebut lymphangiography, memerlukan cairan berwarna biru yang dapat terlihat dengan sinar X. cairan itu disuntikkan pada pembuluh darah di antara jari kaki dan kemudian dengan menggunakan sinar X akan terlihat gambaran kelenjar getah bening ketika cairan itu melewatinya.

NHL

Kanker kelanjar getah bening atau limfoma adalah sekelompok penyakit keganasan yang bekaitan dan mengenai sistem limfatik. Sistem limfatik merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang membentuk pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker.

Cairan limfatik adalah cairan putih menyerupai susu yang mengandung protein lemak dan limfosit yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh lewat pembuluh limfatik. Ada dua macam sel limfosit yaitu sel B dan T. Sel B berfungsi membantu melindungi tubuh melawan bakteri dengan membuat antibodi yang memusnahkan bakteri. Gejala dan penyakit kanker kelenjar getah bening meliputi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher, ketiak atau pangkal paha.

Pembengkakan kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan secara gratis, rasa lelah yang terus menerus, batuk-batuk dan sesak napas, gatal-gatal, demam tanpa sebab dan berkeringat malam hari.

Seringkali penderita tidak menunjukkan gejala khas hanya memiliki semacam benjolan atau pembengkakan kelenjar getah bening pada leher. Karena tidak ada keluhan khas banyak pasien baru berobat saat masuk stadium lanjut sehingga sel kanker sudah menyebar dan sulit diangkat dengan operasi.

WHO memperkirakan sekitar 1,5 juta orang di dunia saat ini hidup dengan NHL dan 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini tiap tahun. Sekitar 55 persen dari NHL tipenya agresif dan tumbuh cepat.

NHL merupakan kanker tercepat ketiga pertumbuhannya setelah kanker kulit dan paru-paru. Angka kejadian NHL meningkat 80 persen dibandingkan tahun 1970-an. Setiap tahun angka kejadian penyakit ini meningkat 3-7 pesen. NHL banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia 45-60 tahun.

Makin tua usia makin tinggi risiko terkena limfoma karena daya tahan tubuhnya menurun. Hingga kini penyebab limfoma belum diketahui secara pasti. Ada empat kemungkinan penyebabnya yaitu faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet, pewarna kimia). Penyebabnya multifaktor.

Terdapat lebih dari 30 subtipe NHL (90 persen dari jenis sel B) yang dapat diklasifikasikan dengan pertimbangan beberapa faktor, penampakan di bawah mikroskop, ukuran, kecepatan tumbuh dan organ yang kena.

Limfoma indolen (derajat rendah) tumbuh lambat sehingga diagnostik awal lebih sulit. Pasien dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun tetapi belum ada pengobatan yang menyembuhkan. Pasien biasanya memberi respon baik pada terapi awal, tetapi sangat mungkin kambuh lagi. Penderita limfoma indolen bisa mendapat terapi hingga enam kali sepanjang hidup, tetapi makin lama responnya menurun.

Limfoma agresif (derajat keganasan tinggi) cepat tumbuh dan menyebar. Jika dibiarkan tanpa pengobatan dapat mematikan dalam enam bulan. Angka harapan hidup rata-rata lima tahun dan 30-40 persen sembuh. Pasien yang terdiagnosa dini langsung diobati lebih mungkin meraih risiko sempurna dan jarang kambuh, karena ada proteksi kesembuhan, biasanya pengobatan lebih agresif.

http://www.resep.web.id/

Limfoma adalah kanker yang tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal, seperti halnya limfosit normal, limfosit ganas dapat tumbuh pada bebagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, darah ataupun organ lain.

Ada dua jenis kanker sistem limfotik yaitu penyakit hodgkin dan limfoma non-hodgkin (NHL). Kanker kelanjar getah bening atau limfoma adalah sekelompok penyakit keganasan yang bekaitan dan mengenai sistem limfatik. Sistem limfatik merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang membentuk pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker.

Cairan limfatik adalah cairan putih menyerupai susu yang mengandung protein lemak dan limfosit yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh lewat pembuluh limfatik. Ada dua macam sel limfosit yaitu sel B dan T. Sel B berfungsi membantu melindungi tubuh melawan bakteri dengan membuat antibodi yang memusnahkan bakteri. Gejala dan penyakit kanker kelenjar getah bening meliputi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher, ketiak atau pangkal paha.

Pembengkakan kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan secara gratis, rasa lelah yang terus menerus, batuk-batuk dan sesak napas, gatal-gatal, demam tanpa sebab dan berkeringat malam hari.

Seringkali penderita tidak menunjukkan gejala khas hanya memiliki semacam benjolan atau pembengkakan kelenjar getah bening pada leher. Karena tidak ada keluhan khas banyak pasien baru berobat saat masuk stadium lanjut sehingga sel kanker sudah menyebar dan sulit diangkat dengan operasi.

WHO memperkirakan sekitar 1,5 juta orang di dunia saat ini hidup dengan NHL dan 300 ribu orang meninggal karena penyakit ini tiap tahun. Sekitar 55 persen dari NHL tipenya agresif dan tumbuh cepat.

NHL merupakan kanker tercepat ketiga pertumbuhannya setelah kanker kulit dan paru-paru. Angka kejadian NHL meningkat 80 persen dibandingkan tahun 1970-an. Setiap tahun angka kejadian penyakit ini meningkat 3-7 pesen. NHL banyak terjadi pada orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia 45-60 tahun.

Makin tua usia makin tinggi risiko terkena limfoma karena daya tahan tubuhnya menurun. Hingga kini penyebab limfoma belum diketahui secara pasti. Ada empat kemungkinan penyebabnya yaitu faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet, pewarna kimia). Penyebabnya multifaktor.

Terdapat lebih dari 30 subtipe NHL (90 persen dari jenis sel B) yang dapat diklasifikasikan dengan pertimbangan beberapa faktor, penampakan di bawah mikroskop, ukuran, kecepatan tumbuh dan organ yang kena.

Limfoma indolen (derjat rendah) tumbuh lambat sehingga diagnostik awal lebih sulit. Pasien dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun tetapi belum ada pengobatan yang menyembuhkan. Pasien biasanya memberi respon baik pada terapi awal, tetapi sangat mungkin kambuh lagi. Penderita limfoma indolen bisa mendapat terapi hingga enam kali sepanjang hidup, tetapi makin lama responnya menurun.

Limfoma agresif (derjat keganasan tinggi) cepat tumbuh dan menyebar. Jika dibiarkan tanpa pengobatan dapat mematikan dalam enam bulan. Angka harapan hidup rata-rata lima tahun dan 30-40 persen sembuh. Pasien yang terdiagnosa dini langsung diobati lebih mungkin meraih risiko sempurna dan jarang kambuh, karena ada proteksi kesembuhan, biasanya pengobatan lebih agresif.
* By : Prof Karmel L Tambunan Ahli Hematologi-Onkologi (ags)

Limfoma malignum atau istilah medisnya Non Hodgkin Lymphoma (NHL), adalah kanker ganas yang terdiri atas sel darah putih ganas yang menyebabkan pembengkakan menyeluruh kelenjar getah bening disekujur tubuh : leher, ketiak, lipat paha, mesenterium/jaringan  lemak perut, para cardial dikanan-kiri jantung, dst. Kenapa kelenjar getah bening membengkak?

Kelenjar getah bening ibarat pabrik yang membuat sel-sel darah putih. Dari germinal center akan terbentuk sel limfosit muda yang disebut limfoblast, makin matang bergerak ketepi menjadi limfosit matur. Limfosit ada yang T-limfosit ada B-limfosit.

T-limfosit akan ’sekolah’ dulu di kelenjar thymus, untuk mengenali  segala sesuatu tentang cara melawan bakteri, kuman, virus, jamur, dll yang memasuki tubuh kita. Sedangkan B-limfosit akan khusus menangani hal/kejadian berkaitan dengan imunitas. Limfoit-B berasal dari imunoblast yang kemudian akan berkembang menjadi sel plasma.

Dalam keadaan normal sel-sel darah: sel darah merah, sel darah putih dan trombosit  akan berkembang dari muda/imatur menjadi matang/matur didalam sumsum tulang. Begitu sel darah menjadi matur, akan segera keluar dari sumsum tulang dan ikut aliran darah keseluruh tubuh. Jadi bila ditemukan sel-sel darah imatur, yang masih muda dan belum matang didalam aliran darah tepi, maka hal ini dikatagorikan abnormal/patologis dan patut dilacak lebih jauh..

Apabila sel darah putih imatur (limfoblast)  tidak berkembang menjadi sel darah putih  matur, berarti maturasi sel darah putih terhenti sampai disana (maturation arrest), dan tidak akan pernah menjadi matur. Maka limfoblast seperti ini akan bersifat ganas, sel-sel ganas membelah diri tidak terkendali sehingga mendominasi populasi sel darah didalam tubuh kita. Keseimbangan populasi antara sel darah merah, sel darah putih dan trombosit menjadi terganggu. Inilah awal terjadinya kanker sel darah…

Dampak dari proliferasi sel darah putih yang tidak terkendali,  sel darah merah akan terdesak, jumlah sel eritrosit menurun dibawah normal yang disebut anemia. Selain itu populasi limfoblast yang sangat tinggi juga akan menekan jumlah sel trombosit dibawah normal yang disebut trombopenia. Bila kedua keadaan terjadi bersamaan akan disebut bisitopenia yang menjadi salah satu tanda kanker darah…

Secara kasat mata penderita tampak pucat, badan seringkali hangat dan merasa lemah tidak berdaya, selera makan hilang, berat badan menurun disertai pembengkakan seluruh kelenjar getah bening : leher, ketiak, lipat paha, dll.

Penyebabnya apa? Umumnya pada penyakit kanker hampir selalu disertai oleh susunan dan jumlah khromosom yang tidak normal. Kelainan khromosom pada limfoma dapat disebabkan oleh : infeksi virus EBV (Epstein-Barr Virus) dan bahan kimia dari pollutant, makanan dan minuman.

Paparan bahan kimia pada saat ini agak sulit untuk dihindari, karena berkaitan  dengan life style atau gaya hidup modern saat ini. Jadi industrialisasi dan modernisasi ibarat pisau bermata dua : satu sisi menguntungkan/mempermudah hidup dan satu sisi lainnya merugikan yaitu munculnya berbagai kanker yang sampai saat ini masih sulit ditanggulangi..

Kemajuan teknologi akan membawa serta dampak negatif bagi seluruh isi planet dunia dimana kita hidup, tidak terbatas pada manusia tetapi juga tanaman dan binatang..      So, think twice and be wise in applying technology…

http://www.sukmamerati.com/

Limfoma non-Hodgkin mempakan tumor ganas jaringan limfoid yang paling sering dijurnpai. Penyakit ini meiniliki sub kelompok yang sangat heterogen dengan klasifikasi yang selalu berkembang.’ Pada tahun 1966 Rappaport mengajukan klasifikasi yang didasarkan sepenuhnya pada morfologi sel. Kemudian dikemukakan klasifikasi Luke-Collins yang mengelompokkan limfoma non-Hodgkin ke dalam kategori sel T, sel B histiosit, dan sel null, dengan memakai petanda sitokimia dan imunologi sebagai tambahan terhadap penelitian morfol~gi. Pada tahun 1982, suatu panel pakar internasional menyarankan klasifikasi baru yang mengusahakan perakitan kategori morfologi limfoma non-Hodgkin ke dalam tiga kelompok prognosis utama. Klasifikasi terbaru dari WHO yang didasarkan pada klasifikasi REAL dikemukakan pada tahun 1999. Klasifikasi ini dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa klasifikasi yang dipakai hendaknya dapat memberikan inforniasi mengenai biologi tumor, sifat

alami, dan respon peng~batan. Berdasarkan klasifikasi REAL, limfoma non-Hodgkin dapat dibedakan dalam kelompok limfoma

sel B dan limfoma sel T/NK. Limfoma sel B matur merupakan kasus terbanyak, meliputi 90% dari seluruh kasus limfomanon-Hodglun. Di seluruh dunia jenis limfoma tersebut diperkirakan menyumbang 4% kasus kanker baru setiap t a h ~ nJ.e~ni s limfoma yang paling sering dijumpai dari kelompok ini adalah diffuse large B cell lymphoma, diikuti oleh folliczrlar lymphoma, MALT-lymphoma dan small lymphocytic lymphoma. Meskipun di negara Barat limfoma merupakan kasus dengan frekuensi tinggi follicular lymphoma mempakan kasus yang jarang dijumpai di Asia.3″ Etiologi limfoma non-Hodgkin belum diketahui

dengan pasti. Infeksi virus Epstein- Bar diperkirakan berhubungan dengan patogenesis dzme large B cell lymphoma pada penderita dengan imunokompromais seperti sindrom imunodefisiensi primer dan gangguan imun primer yang lain, infeksi human immunodeficiency virus (HIV), imunosupresi pada penderita pasca transplantasi organ dan~ebagainya.P~e nyakit limfoproliferatif yang berhubungan dengan gangguan imun primer kebanyakan te jadi pada lokasi ekstranodal terutarna traktus gastrointestinal dan sistem saraf pusat4r6 Virus Epstein Barr merupakan suatu lymphotropic herpes virus sebagai agen penyebab infeksi mononukleosis. Secara in vivo virus ini menginfeksi limfosit B dan sel epitel orofaring. Infeksi pada sel B

diperantarai ikatan EBV pada glikoprotein selular 145 kDa CD 21 sebagai reseptor Pada awalnya, virus ini hanya mengekspresikan EB nuclear antigen-1 ( EBNA- 1 ) dan EB encoded RNAs (EBERs). Pola ekspresi gen ini dikenal sebagai tipe laten I, kemungkinan digunakan oleh virus untuk menghindarkan diri dari sistem imun.seperti pada transplantasi organ dan AIDS. Sel yang terinfeksi EBV dapat mengadakan proliferasi secara tak terkendali dan mengekspresikan sejumlah protein laten virus. EBNA-2 dan LMP- 1 mempunyaipengaruh besar pada proses transforniasi sel. Akhirakhir ini diketahui bahwa EBNA-1 berperan juga pada proses terseb~t. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekspresi EBNA- 1 pada limfoma non-Hodgkin pada berbagai variasi jenis serta lokasi nodal dan ekstranodal limfoma non-Hodgkin sel B

Virus Epstein-Barr (EBV) adalah virus yang termasuk dalam famili Herpesvirus yang menginfeksi

lebih dari 90 % populasi manusia di seluruh dunia dan merupakan penyebab infeksi

mononukleosis. Infeksi EBV berasosiasi dengan beberapa penyakit keganasan jaringan limfoid

dan epitel seperti limfoma Burkitt, limfoma sel T, Hodgkin disease, karsinoma nasofaring (KNF),

karsinoma mammae dan karsinoma gaster. KNF adalah neoplasma epitel nasofaring yang

sangat konsisten dengan infeksi EBV. Infeksi primer pada umumnya terjadi pada anak-anak dan

asymptomatik. Infeksi primer dapat menyebabkan persistensi virus, dimana virus memasuki

periode laten di dalam limfosit B memori. Periode laten dapat mengalami reaktivasi spontan ke

periode litik dimana terjadi replikasi DNA EBV, transkripsi dan translasi genom virus, dilanjutkan

dengan pembentukan (assembly) virion baru dalam jumlah besar sehingga sel pejamu (host)

menjadi lisis dan virion dilepaskan ke sirkulasi. Sel yang terinfeksi EBV mengekspresikan antigen

virus yang spesifik untuk masing-masing periode infeksi.

EBV mempunyai potensi onkogenik mengubah sel yang terinfeksi menjadi sel ganas. Pada

penderita KNF, DNA EBV selain dapat ditemukan pada jaringan (biopsi) tumor juga dapat

dideteksi dalam sirkulasi (plasma/serum) dan sel darah penderita KNF. Raditerapi dan

kemoterapi merupakan terapi standar dalam penanganan KNF. Lebih kurang 80 % penderita

KNF pada stadium awal (stadium I dan II) dapat mencapai remisi sempurna setelah mendapat

radioterapi.. Namun demikian rekurensi setelah radioterapi dan kemoterapi dihentikan masih

merupakan kendala dalam pengobatan KNF.

Penelitian ini merupakan penelitian prospektif yang bertujuan untuk mengetahuibefektivitas

radioterapi dan kemoterapi pada penderita karsinoma nasofaring dengan mendeteksi perubahan

eksistensi DNA EBV dan ekspresi gen laten maupun gen litik EBV di dalam jaringan (biopsi)

tumor, plasma/ serum dan sel darah penderita KNF yang mendapat radioterapi dan kemoterapi.

Deteksi DNA EBV, ekspresi gen laten dan gen litik EBV dilakukan dengan teknik nested PCR dan

RT-pcr. Perubahan DNA EBV dan perubahan ekspresi gen tersebut di dalam jaringan tumor,

plasma/ serum dan sel darah penderita KNF yang mendapat radioterapi dan kemoterapi. Deteksi

DNA EBV, ekspresi gen laten dan gen litik EBV dilakukan dengan teknik nested PCR dan RTPCR.

Perubahan DNA EBV dan perubahan ekspresi gen tersebut di dalam jaringan tumor,

plasma/ serum dan sel darah setelah terapi memberi peluang penggunaan DNA/ EBV dan

transkripnya (RNA EBV) sebagai marka/ penanda yang sensitif untuk memantau status patologi

dan keberhasilan terapi KNF.

Variasi genetik host juga sangat mungkin berpengaruh pada suseptibilitas individu terhadap

infeksi EBV dan patogenesis KNF, sehingga berimplikasi pada prognosis penyakit dan hasil

terapi KNF. Beberapa gen yang telah diketahui terkait dengan patologi KNF adalah gen PIGR

dan gen reseptor sel T (TCR). Gen PIGR mengekspresikan protein yang memediasi translokasi

virus ke sel target seperti epitel nasofaring dan limfosit B. Mutasi gen PIGR 1793C → T telah

terbukti berasosiasi dengan kerentanan individu terhadap KNF pada etnis tertentu. Gen TCR

mengekspresikan reseptor antigen pada permukaan limfosit T. Limfosit T berperan penting dalam

mekanisme imunologik untuk mengeliminasi sel terinfeksi yang mengekspresikan antigen virus

dipermukaannya, sehingga menghambat transformasi sel menjadi maligna. Varian TCR telah

dideterminasi sebagai alel yang menentukan genotip limfosit T. Genotip sel T berimplikasi pada

fungsi sel T dalam reaksi seluler melawan tumor, sehingga sangat mungkin berasosiasi dengan

patogenesis KNF. Dalam penelitian ini mutasi gen PIGR 1793C →T akan dideteksi denga PCRRFLP

menggunakan enzim restriksi Hgal, sedangkan polimorfisme (alel) TCR juga akan

dideterminasi dengan PCR-RFLP menggunakan enzim restriksi Bgl II. Mutasi gen PIGR 1973C

→ T dan genotip TCR dapat diduga merupakan faktor predisposisi yang akan menentukan

prognosis KNF dan hasil terapinya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipromosikan sebagai metoda yang sensitif untuk

memantau statua patologi dan terapi KNF dengan memperhatikan dan mempertimbangkan

variasi genetik gen PIGR dan TCR sebagai faktor prediposisi yang dapat menentukan prognosis

penyakit dan hasil terapi KNF pada populasi Indonesia yang sangat heterogen.

Karena hingga saat ini belum diketahui apa yang menjadi penyebab utama serangan limfoma. Kendati demikian, hasil penelitian para ahli menunjukkan penyakit tersebut kemungkinan akibat faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri dan toksin lingkungan, seperti herbisida, bahan pengawet dan pewarna kimia,” kata dr Djumhana Atmakusuma, SpPD, KHOM, pakar onkologi medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangunkusuma (FKUI/RSCM), dalam sebuah dialog kesehatan, di Jakarta, belum lama ini.

Dr Djumhana menjelaskan, limfoma adalah jenis kanker ketiga yang paling cepat tumbuh setelah kanker kulit dan paru-paru. Jenis kanker ini merusak sistem limfatik yang dalam keadaan normal menjadi komponen utama sistem kekebalan tubuh melawan infeksi dan kanker.

Menurut ahli hematologi itu, saat ini sedikitnya terdapat 1.500.000 orang di dunia yang terkena limfoma. Dari jumlah tersebut 300.000 di antaranya meninggal tiap tahunnya dan angka kejadiannya meningkat sebesar 80 persen dari tahun 1973 hingga tahun 1990.

“Limfoma adalah sejenis kanker yang tumbuh akibat mutasi sel limfosit – sejenis sel darah putih yang sebelumnya normal. Hal ini berakibat sel abnormal menjadi ganas,” ujarnya.

Seperti halnya limfosit normal, limfosit ganas dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang darah maupun organ lainnya.

Djumhana menjelaskan ada dua macam kanker sistem limfatik – penyakit Hodgkin dan Limfoma Non Hodgkin (NHL). NHL – sekelompok penyakit keganasan yang saling berkaitan, sedangkan sistem limfatik – bagian penting sistem kekebalan tubuh yang memainkan peran kunci dalam pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker.

“Cairan limfatik, cairan putih mirip susu yang mengandung protein, lemak dan limfosit (sel darah putih) yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfatik. Jenis limfatik ini terbagi dua, sel B dan sel T. Sel B membantu melindungi tubuh melawan bakteri dengan cara membuat antibodi,” katanya.

Dia mengemukakan, angka kejadian atau prevalensi NHL meningkat 3-7 persen tiap tahun. Sebagian besar kanker jenis itu menyerang orang dewasa dengan angka tertinggi pada rentang usia antara 45-60 tahun. “Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi risiko terkena Limfoma Non Hodgkin,” tegas Djumhana.

Pakar onkologi FKUI/RSCM mengatakan ada lebih 30 sub tipe NHL yang berbeda. Dari jumlah itu 90 persennya dari jenis sel B yang dapat dikelompokkan menurut beberapa panduan klasifikasi. Klasifikasi tersebut mempertimbangkan beberapa faktor, seperti penampakan di bawah mikroskop, ukuran, kecepatan tumbuh dan organ yang terkena.

Penyebab

Sebagian besar kasus LNH tidak diketahui penyebabnya. Akan tetapi, prevalensinya meningkat pada penderita PH yang diterapi kemoradiasi, pasien imunodefisiensi yang disebabkan virus Epstein-Barr, pasien immunodefisiensi herediter contoh ataksia teleangiektasia, Chediak-Steinbruck-Higashi, sindrom Wiskott Aldrich, sindrom Sjörgen, dan tiroiditis Hashimoto serta virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV).

Selain itu, kelainan genetik dituding ikut berperan. Sebagai contoh, translokasi 8;14 pada limfoma Burkitt. Pada translokasi itu onkogen c-myc pada kromosom 8 terikat dengan lokus rantai berat immunoglobulin pada kromosom 14. Contoh lain adalah translokasi 14;18 dimana onkogen bcl-2 pada kromosom 18 berdekatan/berjajaran dengan lokus rantai berat immunoglobulin pada kromosom 14.

Lebih dari 60% pasien LNH akan mengalami limfadenopati – pembesaran kelenjar getah bening (KGB) – yang biasanya disertai tanda-tanda sistemik seperti demam, berat badan menurun lebih dari 10 kg dalam 6 bulan terakhir, serta keringat di malam hari. Keterlibatan cincin Waldeyer, KGB epitroklear dan mesenterika lebih mengarah kepada LNH daripada PH. Sekitar 20% pasien mengalami adenopati mediastinum disertai batuk dan rasa berat di dada. Bila limfoadenopati terjadi masif, dapat dijumpai gejala sindom obstruksi vena kava superior. Sindrom tersebut sering ditemukan pada LNH jenis sel besar difus.

Konsistensi KGB pada LNH keras, berbatas tegas dan mempunyai ekstrakapsul. Keterlibatan limpa, hati, dan sumsum tulang  ditemukan pada 50% LNH keganasan rendah yang mengakibatkan pasien mengalami anemia, trombositopenia dan leukopenia (pansitopeni). Manifestasi ekstralimfatik seperti pada otak, paru, lambung, usus halus, tulang, dan testis sering dijumpai pada LNH keganasan tingg

Pembesaran kelenjar getah bening (KGB)

Biasanya ia ditemukan di leher, ketiak dan lipat paha. (lihat gambar Wikipedia)

Ia pun dapat ditemukan pada anak-anak.

Pembesaran KGB dapat terjadi primer, disebabkan oleh KGB itu sendiri seperti Limfoma; atau sekunder berasal dari penyakit lain baik infeksi ataupun kanker.

Infeksi yang dimulai dengan masuknya kuman patogen<!–[if supportFields]> XE “kuman patogen” < ![endif] ><![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–> kedalam tubuh, direspons oleh sistem kekebalan yang berlapis. Di lapis depan berjajar komponen normal tubuh seperti kulit, selaput lendir, batuk, flora normal dan berbagai sel. Di pusat pertahanan, terdapat KGB yang menyimpan dua mesin perang yaitu limfosit T (sel T<!–[if supportFields]> XE “sel T” < ![endif] ><![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>) dan limfosit B (sel B<!–[if supportFields]> XE “sel B” < ![endif] ><![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–>). KGB tersusun secara regional menjaga kawasan tertentu. Karena itu mereka disebut juga sentinel node (sentinal adalah penjaga dan node adalah KGB). Sentinel node kepala dan muka, terdapat di leher; payudara dan tangan, ketiak; kaki, lipat paha dlsb.

Dalam peperangan itu salah satu tugas lapis pertama adalah membawa sampel kuman ke limfosit untuk identifikasi dan pemrograman penghancurannya. Kemudian limfe atau cairan getah bening akan membawa sel T dan sel B, ke daerah konflik. Dalam usahanya kgb<!–[if supportFields]> XE “kgb” < ![endif] ><![endif]–><!–[if supportFields]><![endif]–> regional akan meningkatkan aktivitasnya hingga membesar. Ciri-ciri pembesaran KGB dalam mengatsi infeksi adalah sakit.

Karena itu bila pembesaran KGB regional dengan nyeri dan disertai tanda-tanda infeksi didaerah itu, pencarian dan pengobatan pusat infeksi menjadi prioritas. Misalnya bila di leher seorang anak ada pembesaran KGB dan giginya berlubang, ia terlebih dahulu dirujuk ke dokter gigi. Bila tidak ditemukan pusat infeksi biopsi dilakukan. Dan yang paling sering ditemukan adalah TBC kelenjar.

Berbeda dengan infeksi, KGB regional akan kewalahan menghadapi kanker. Mereka melakukan penetrasi secara bertahap dalam waktu tahunan. Lama-lama KGB regional akan membesar tanpa rasa sakit. Karena itu bila pembesaran KGB regional tidak sakit, pencarian kanker primer menjadi prioritas. Adakalanya mudah seperti kanker payudara pada pembesaran KGB ketiak; melanoma , KGB lipat paha dlsb. Bila tidak ditemukan dengan cepat biopsi dilakukan. Biasanya hasil biopsi akan memperlihatkan kanker primer. Misalnya kanker nasofaring terdiagnosa dari biopsi KGB leher. Namun kadang-kadang kanker primer yang menyebabkan pembesaran KGB itu tidak ditemukan.

Selain metastasis dari kanker lain, biopsi KGB regional dapat menunjukkan penyakit Limfoma atau kanker primer dari jaringan limfoid. Biasanya yang ditemukan jenis Hodgkin. Pada pembesaran KGB regional yang multipel (banyak) serta tidak sakit, biopsi dilakukan atas semua KGB dan biasanya ditemukan jenis non-Hodgkin. Tergantung atas luasnya pengobatan dapat dilakukan dengan radiasi dan atau kemoterapi. Bila ditemukan dalam stadium dini, biasanya penyembuhan dapat diharapkan.

EBV

Epstein Barr virus (EBV)

Epstein Barr Virus (EBV) adalah virus DNA yang diklasifikasikan sebagai bagian dari herpes virus (13,14) dengan double stranded DNA pada membran limfosit B yang terinfeksi. (7). Virus ini termasuk bagian dari gamma herpes virus family dan memiliki kemiripan dalam genomic structure dan gene organisation. Sesuai hubungannya dengan berbagai macam limfoid dan keganasan epitelial, EBV telah dikelompokkan sebagai group 1 karsinogen oleh international agency for research on cancer. (15).

Imunitas terhadap virus

Epstein Barr Virus ditularkan secara per oral, umumnya ditularkan melalui saliva, menginfeksi epitel nasofaring dan limfosit B. (16,17). Kegagalan imunitas spesifik EBV dapat memberikan peran pada patogenesis tumor yang berkaitan dengan EBV dan juga pada penderita immunodeficiencies tanpa manifestasi klinik. (15).

Peranan virus dalam karsinogenesis

Terjadinya kanker dapat berasal dari berbagai mutasi. Mutasi dapat terjadi akibat respons terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh faktor lingkungan, seperti zat kimia, radiasi, dan virus. (18).

Pada keadaan fisiologis proses pertumbuhan, pembelahan, dan diferensiasi sel diatur oleh gen yang disebut protoonkogen yang dapat berubah menjadi onkogen bila mengalami mutasi. Onkogen dapat menyebabkan kanker karena memicu pertumbuhan dan pembelahan sel secara patologis. (7).

Implikasi kelainan siklus sel terhadap keganasan

Keganasan pada umumnya dapat terjadi melalui dua mekanisme yaitu, pertama pemendekan waktu siklus sel sehingga akan menghasilkan lebih banyak sel yang diproduksi dalam satuan waktu. Kedua, penurunan jumlah kematian sel akibat gangguan pada proses apoptosis. Gangguan pada berbagai protoonkogen yang merangsang sel menjalani dan gen penekan tumor (TSGs) yang menghambat penghentian proses siklus se

Tumor supressor gen (TSG)

Tumor supressor gen (TSG) merupakan kelompok gen yang lebih baru ditemukan setelah onkogen, dikenal sebagai antionkogen, karena berfungsi melakukan kontrol negatif terhadap proliferasi sel. (20). Gen p53 merupakan contoh lain kelompok TSGs, yang mempunyai peran aktif dalam mendeteksi kerusakan DNA dan menginduksi gen reparasi DNA serta menginduksi apoptosis. (18).

Gen p53 adalah suatu gen supressor tumor yang dikenal sebagai master guardian of the genome dan merupakan unsur utama yang memelihara stabilitas genetik. (21). Fungsi gen p53 mendeteksi sintesis DNA yang salah atau kerusakan DNA. Dapat dimengerti bahwa mutasi p53 menyebabkan disfungsi p53 dan berakibat DNA yang mengalami kerusakan tetap dilipatgandakan, menghasilkan populasi sel mengandungDSNA abnormal. Inaktivasi gen p53 dapat terjadi bila berkaitan dengan protein medium 2 atau karena adanya infeksi virus misalnya EBV. (22,23).
Aktivitas tumor supressor gen p53

Gen yang produknya mempunyai fungsi penting dalam mengaktivasi cell cycle check point berfungsi memperpanjang waktu tertentu dalam siklus sel untuk memberi kesempatan perbaikan DNA. Gen yang mempunyai fungsi penting dalam cell cycle check points, yaitu p53. (20,24).

p53 hanya akan berfungsi baik bila normal. Pada umumnya defek pada p53 adalah point mutation, disfungsi gen p53 dapat terjadi akibat pengikatan p53 oleh onkogen virus. Bila hal ii terjadi maka sebagian besar fungsi p53 terganggu. (25,26).

Proses keganasan (malignansi) dapat terjadi karena perilaku sel yang abnormal akibat adanya mutasi gen. Mutasi gen, dalam hal ini terjadi pada gen p53, karena berikatan dengan onkogen virus seperti EBV. (27).

Apoptosis

Apoptosis adalah suatu kejadian yang dikendalikan secara genetik yang menghasilkan penghilangan sel yang tidak dikehendaki tanpa menyebabkan gangguan pada jaringan. Apoptosis juga merupakan hal penting dalam perkembangan sel normal dan homeostasis jaringan normal. (28,29).

Dalam kaitan dangan pengendalian onkogenesis, apoptosis merupakan mekanisme penting untuk mencegah proliferasi sel yang mengalami kerusakan DNA, agar sel dengan DNA tersebut tidak dilipatgandakan. Kegagalan sel tumor untuk melaksanakan mekanisme apoptosis merupakan salah satu faktor yang mendasari pertumbuhan sel tumor yang makin lama makin besar. Akibat defek mekanisme apoptosis yang lain adalah kemungkinan terjadinya keganasan. (7).

Apoptosis merupakan salah satu cara untuk menyingkirkan sel yang mengandung lesi DNA, sehingga dapat dicegah terjadinya transformasi sel. Mutasi yang terjadi pada berbagai gen, terutama gen yang berperan meningkatkan apoptosis, memungkinkan terjadinya resistensi terhadap proses apoptosis yang diperlukan untuk mencegah transformasi. (7).Epstein Barr Virus berikatan dengan sel inang melalui reseptor CD21 dan dapat terjadi transport DNA virus ke dalam inti sel. (31). Adanya insersi DNA virus mengakibatkan gangguan pada DNA sel. Gangguan DNA sel yang terjadi seharusnya diperbaiki oleh gen p53. Gen p53 seharusnya merangsang p21 menekan semua cyclin dependent kinase agar cyclin tidak dapat bekerja, sehingga siklus sel akan terhenti. Pada saat terhentinya siklus sel akan memberikan waktu terjadinya DNA repair sehingga dapat dihindari terbentuknya sel yang mengandung defek DNA. Pada infeksi EBV sel tidak terhenti untuk melakukan DNA repair karena terjadi mutasi pada gen p53 maka p21 yang seharusnya diaktivasi oleh gen p53 mengalami gangguan. p21 yang berfungsi untuk menekan semua cyclin dependent kinase tidak bekerja. (7).

Gangguan yang terjadi adalah siklus sel tetap berjalan dengan defek DNA yang diturunkan pada sel turunan. Sel turunan dengan defek DNA dapat mengganggu apoptosis. Fungsi apoptosis telah terganggu karena adanya mutasi pada gen pemicu apoptosis (p53). Apoptosis akan terhambat dan mengakibatkan se menjadi immortal. Pada kondisi demikian, defek DNA tidak mengaktivasi gen-gen yang tergantung p53. Selanjutnya tidak terjadi penghentian siklus sel dan mutasi akan terus terbentuk (berproliferasi) sehingga terjadi proses keganasan. (7).Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa squamous cell carcinoma dapat disebabkan oleh Epstein Barr Virus melalui mutasi gen p53 dan penghambatan DNA repair. EBV induced NHL terjadi sebagai akibat gangguan imunitas. Kebanyakan kasus endemis dan sporadis terdapat translokasi dari lengan panjang khromosom 8 yang mengandung c-myc protoonkogen ke lengan panjang 14 (8q-;14+). Hal ini mengakibatkan expresi yang abnormal dari produk gen mengakibatkan proliferasi sel yang tidak terbatas, mencetuskan tranformasi neoplastik.

3 thoughts on “EBV dan NHL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s