Nikmati proses . jangan pikiran hasilnya !


Judul di atas merupakan sebuah kalimat yang teramat sering diucapkan oleh salah satu dosen gw yaitu dr. Yan E H. setiap kali ia memberikan lecturenya, ia selalu menyisipkan kalimat tersebut. NIKMATI PROSES, JANGAN PIKIRKAN HASILNYA.

Penasaran dengan statement tersebut, gw surfing di internet tentang kalimat yang tak luput dari mulut dr. Yan itu, dan ternyata gw dapet sebuah tulisan oleh Aa’ Gym

Dengan judul yang sama yaitu, “Nikmati Proses”.

Sebenarnya yang harus kita nikmati dalam hidup ini adalah proses. Mengapa? Karena yang bernilai dalam hidup ini ternyata adalah proses dan bukan hasil. Kalau hasil itu ALLOH yang menetapkan, tapi bagi kita punya kewajiban untuk menikmati dua perkara yang dalam aktivitas sehari-hari harus kita jaga, yaitu selalu menjaga setiap niat dari apapun yang kita lakukan dan selalu berusaha menyempurnakan ikhtiar yang dilakukan, selebihnya terserah ALLOH SWT.

Seperti para mujahidin yang berjuang membela bangsa dan agamanya, sebetulnya bukan kemenangan yang terpenting bagi mereka, karena menang-kalah itu akan selalu dipergilirkan kepada siapapun. Tapi yang paling penting baginya adalah bagaimana selama berjuang itu niatnya benar karena ALLOH dan selama berjuang itu akhlaknya juga tetap terjaga. Tidak akan rugi orang yang mampu seperti ini, sebab ketika dapat mengalahkan lawan berarti dapat pahala, kalaupun terbunuh berarti bisa jadi syuhada. Bila mereka memikirkan hasil, maka mungkin saja surga yang dijanjikan Allah kepada para mujahid ersebut tidak akan tercapai karena selagi berperang mereka menginginkan kematian musuhnya sehingga muncullah rasa benci dan ingin membunuh lawannya itu.

Ketika jualan dalam rangka mencari nafkah untuk keluarga, maka masalah yang terpenting bagi kita bukanlah uang dari jualan itu, karena uang itu ada jalurnya, ada rizkinya dari ALLOH dan semua pasti mendapatkannya. Karena kalau kita mengukur kesuksesan itu dari untung yang didapat, maka akan gampang sekali bagi ALLOH untuk memusnahkan untung yang didapat hanya dalam waktu sekejap. Dibuat musibah menimpanya, dikenai bencana, hingga akhirnya semua untung yang dicari berpuluh-puluh tahun bisa sirna seketika.

Walhasil yang terpenting dari bisnis dan ikhtiar yang dilakukan adalah prosesnya. Misal, bagaimana selama berjualan itu kita selalu menjaga niat agar tidak pernah ada satu miligram pun hak orang lain yang terambil oleh kita, bagaimana ketika berjualan itu kita tampil penuh keramahan dan penuh kemuliaan akhlak, bagaimana ketika sedang bisnis benar-benar dijaga kejujuran kita, tepat waktu, janji-janji kita penuhi.

Dan keuntungan bagi kita ketika sedang berproses mencari nafkah adalah dengan sangat menjaga nilai-nilai perilaku kita. Perkara uang sebenarya tidak usah terlalu dipikirkan, karena ALLOH Mahatahu kebutuhan kita lebih tahu dari kita sendiri. Kita sama sekali tidak akan terangkat oleh keuntungan yang kita dapatkan, tapi kita akan terangkat oleh proses mulia yang kita jalani.

Ini perlu dicamkan baik-baik bagi siap pun yang sedang bisnis bahwa yang termahal dari kita adalah nilai-nilai yang selalu kita jaga dalam proses. Termasuk ketika kuliah bagi para pelajar, kalau kuliah hanya menikmati hasil ataupun hanya ingin gelar, bagaimana kalau meninggal sebelum diwisuda? Apalagi kita tidak tahu kapan akan meninggal. Karenanya yang paling penting dari perkuliahan, tanya dulu pada diri, mau apa dengan kuliah ini?(*pengen sukses lah, n bisa nolong orang laen). Kalau hanya untuk mencari isi perut, kata Imam Ali, “Orang yang pikirannya hanya pada isi perut, maka derajat dia tidak akan jauh beda dengan yang keluar dari perutnya”. Kalau pikiran kita hanya ingin mencari uang, hanya tok uang, maka asal tahu saja penjahat juga pikirannya hanya uang.

Bagi kita kuliah adalah suatu ikhtiar agar nilai kemanfaatan hidup kita meningkat. Kita menuntut ilmu supaya tambah luas ilmu hingga akhirnya hidup kita bisa lebih meningkat manfaatnya. Kita tingkatkan kemampuan salah satu tujuannya adalah agar dapat meningkatkan kemampuan orang lain. Kita cari nafkah sebanyak mungkin supaya bisa mensejahterakan orang lain.

Dalam mencari rizki ada dua perkara yang perlu selalu kita jaga

+ketika sedang mencari kita sangat jaga nilai-nilainya

+ketika dapat kita distribusikan sekuat-kuatnya.

Inilah yang sangat penting. Dalam perkuliahan, niat kita mau apa nih? Kalau mau sekolah, mau kuliah, mau kursus, selalu tanyakan mau apa nih? Karena belum tentu kita masih hidup ketika diwisuda, karena belum tentu kita masih hidup ketika kursus selesai.

Ah, Sahabat. Kalau kita selama kuliah, selama sekolah, selama kursus kita jaga sekuat-kuatnya mutu kehormatan, nilai kejujuran, etika, dan tidak mau nyontek lalu kita meninggal sebelum diwisuda? Tidak ada masalah, karena apa yang kita lakukan sudah jadi amal kebaikan. Bila kita hanya memikirkan nilai yang tinggi, maka segala hal akan kita lakukan termasuk mencontek untuk mendapatkan nilai yang tinggi tersebut. Hal tersebut sudah mengganggu niat kita menjalani perkuliahan, dan tentulah mengakibatkan dosa. Karenanya jangan terlalu terpukau dengan hasil.

Oleh sebab itu, sekali lagi jangan terpukau oleh hasil, karena hasil yang bagus menurut kita belum tentu bagus menurut perhitungan ALLOH. Kalau misalnya kualifikasi mental kita hanya uang 50 juta yang mampu kita kelola. Suatu saat ALLOH memberikan untung satu milyar, nah untung ini justru bisa jadi musibah buat kita. Karena setiap datangnya rizki akan efektif kalau iman kitanya bagus dan kalau ilmu kitanya bagus. Kalau tidak, datangnya uang, datangnya gelar, datangnya pangkat, datangnya kedudukan, yang tidak dibarengi kualitas pribadi kita yang bermutu sama dengan datangnya musibah. Ada orang yang hina gara-gara dia punya kedudukan, karena kedudukannya tidak dibarengi dengan kemampuan mental yang bagus, jadi petantang-petenteng, jadi sombong, jadi sok tahu, maka dia jadi nista dan hina karena kedudukannya.

Ada orang yang terjerumus, bergelimang maksiat gara-gara dapat untung. Hal ini karena ketika belum dapat untung akan susah ke tempat maksiat karena uangnya juga tidak ada, tapi ketika punya untung sehingga uang melimpah-ruah tiba-tiba dia begitu mudahnya mengakses tempat-tempat maksiat.

Begitu pula ketika ibu-ibu punya anak, lihatlah prosesnya. Hamilnya sembilan bulan, sungguh begitu berat, tidur susah, berbaring sulit, berdiri berat, jalan juga limbung, masya ALLOH. Kemudian saat melahirkannya pun berat dan sakitnya juga setengah mati. Padahal setelah si anak lahir belum tentu balas budi. Sudah perjuangan sekuat tenaga melahirkan, sewaktu kecil ngencingin, ngeberakin, sekolah ditungguin, cengengnya luar biasa, di SD tidak mau belajar (bahkan yang belajar, yang mengerjakan PR justru malah ibunya) dan si anak malah jajan saja, saat masuk SMP mulai kumincir, masuk SMU mulai coba-coba jatuh cinta. Bayangkanlah kalau semua proses mendidik dan mengurus anak itu tidak pakai keikhlasan, maka akan sangat tidak sebanding antara balas budi anak dengan pengorbanan ibu bapaknya. Bayangkan pula kalau menunggu anaknya berhasil, sedangkan prosesnya sudah capek setengah mati seperti itu, tiba-tiba anak meninggal, naudzhubillah, apa yang kita dapatkan?

Oleh sebab itu, bagi para ibu, nikmatilah proses hamil sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mengurus anak, pusingnya, ngadat-nya, dan rewelnya anak sebagai ladang amal. Nikmatilah proses mendidik anak, menyekolahkan anak, dengan penuh jerih payah dan tetesan keringat sebagai ladang amal. Jangan pikirkan apakah anak mau balas budi atau tidak, sebab kalau kita ikhlas menjalani proses ini, insya ALLOH tidak akan pernah rugi. Karena memang rizki kita bukan apa yang kita dapatkan, tapi apa yang dengan ikhlas dapat kita lakukan

Sebenarnya pola pikir dengan tidak melihat hasil itu sulit kita terapkan. Karena sifat manusiawi yang hanya ingin mendapatkan apa yang diinginkan, yang ingin selalu menjadi yang terbaik sehingga berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai yang bagus, walapun dengan cara yang salah. Selalu begitu. Budaya mencontek dalam diri kita sudah tertanam sejak kecil. Ketergantugan pada hasil pikiran orang lain merupakan kebiasaan buruk yang akan merugikan diri kita sendiri bila terus dilakukan. Maka dari itu berusahalan dengan kemampuan kalian sendiri, jauhkan budaya mencontek, dengan tidak memikirkan hasil melainkan proseslah yang harus dinikmati.

*jadi ikut-ikutan dr. Yan deh, hho :))*

Sekali lagi, nikmati proses jangan pikirkan hasil, karena hal tersebut akan membuat kita lebih bahagia dan ikhlas menerima apapun hasil yang akan diberikan oleh Allah nantinya.

Cheers :))

phiipotterpoona

3 thoughts on “Nikmati proses . jangan pikiran hasilnya !

  1. Tulisannya buagus sekali, dan benar-benar menginspirasi saya untuk menikmati proses dalam hidup ini, berlaku jujur, dan senantiasa berada dijalanNya, memang hal demikian tidak mudah terlebih jika kita diperlakukan tidak adil atau melihat orang lain yang akal-akalan tetapi diberkati, tapi itulah hidup jika kita sudah mencapai tahap iklas seperti itu niscaya hidup menjadi indah dan damai. Okay sukses untuk anda.

    Regards, agnessekar.wordpress.com

  2. iia, emang susah mlakukan ssuatu tnp mikirin hasil.nya,
    apalgi proses yg harus di nikmati.
    tapi, bner juga sii qta ga boleh hny mkirin hasil aja.
    coz, kalo hasil ga ssuai harapan kan bs bwt qt down jg.
    hehe .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s